Kamis, 11 November 2010 | By: ndak muah gw agiah tw

Jangan Suka Begadang atau Organ Tubuh Anda Akan Hancur

Para dokter di National Taiwan Hospital baru-baru ini mengejutkan dunia kedokteran karena ditemukannya kasus seorang dokter muda berusia 37 tahun yang selama ini sangat mempercayai hasil pemeriksaan fungsi hati (GOT,GPT), tetapi ternyata saat menjelang Hari Raya Imlek diketahui positif menderita kanker hati sepanjang 10 cm! Selama ini hampir semua orang sangat bergantung pada hasil indeks pemeriksaan fungsi hati (Liver Function Index).
kanker hati
Mereka menganggap bila pemeriksaan menunjukkan hasil index yang normal berarti semua OK. Kesalahpahaman macam ini ternyata juga dilakukan oleh banyak dokter spesialis. Benar-benar mengejutkan, para dokter yang seharusnya memberikan pengetahuan yang benar pada masyarakat umum, ternyata memiliki pengetahuan yang tidak benar.
Pencegahan kanker hati harus dilakukan dengan cara yang benar. Tidak ada jalan lain kecuali mendeteksi dan mengobatinya sedini mungkin, demikian kata dokter Hsu Chin Chuan. Tetapi ironisnya, ternyata dokter yang menangani kanker hati juga bisa memiliki pandangan yang salah, bahkan menyesatkan masyarakat, inilah penyebab terbesar kenapa kanker hati sulit untuk disembuhkan.

Penyebab utama kerusakan hati adalah:

  1. Tidur terlalu malam dan bangun terlalu siang adalah penyebab paling utama
  2. Tidak buang air di pagi hari
  3. Pola makan yang tidak beraturan
  4. Tidak makan pagi
  5. Terlalu banyak mengkonsumsi obat-obatan
  6. Terlalu banyak mengkonsumsi bahan pengawet, zat tambahan, zat pewarna, pemanis buatan
  7. Minyak goreng yang tidak sehat! Sedapat mungkin kurangi penggunaan minyak goreng saat menggoreng makanan hal ini juga berlaku meski menggunakan minyak goreng terbaik sekalipun seperti olive oil. (Jangan mengkonsumsi makanan yang digoreng bila kita dalam kondisi penat, kecuali dalam kondisi tubuh yang fit)
  8. Mengkonsumsi masakan mentah (sangat matang) juga menambah beban hati. Sayur mayur dimakan mentah atau dimasak matang 3/ 5 bagian. Sayur yang digoreng harus dimakan habis saat itu juga, jangan disimpan
Kita harus melakukan pencegahan dengan tanpa mengeluarkan biaya tambahan. Cukup atur gaya hidup dan pola makanan sehari-hari. Perawatan dari pola makan dan kondisi waktu sangat diperlukan agar tubuh kita dapat melakukan penyerapan dan pembuangan zat-zat yang tidak berguna sesuai dengan jadwalnya.

Sebab:

Malam hari pk 21.00 – 23.00:

Adalah pembuangan zat-zat tidak berguna/beracun (de-toxin) di bagian sistem antibodi (kelenjar getah bening). Selama durasi waktu ini seharusnya dilalui dengan suasana tenang atau mendengarkan musik. Bila saat itu seorang ibu rumah tangga masih dalam kondisi yang tidak santai seperti misalnya mencuci piring atau mengawasi anak belajar, hal ini dapat berdampak negatif bagi kesehatan.

Malam hari pk 23.00 – dini hari pk 01.00:

Saat proses de-toxin di bagian hati, harus berlangsung dalam kondisi tidur pulas

Dini hari pk 01.00 – 03.00:

Proses de-toxin di bagian empedu, juga berlangsung dalam kondisi tidur

Dini hari pk 03.00 – 05.00:

De-toxin di bagian paru-paru. Sebab itu akan terjadi batuk yang hebat bagi penderita batuk selama durasi waktu ini. Karena proses pembersihan (de-toxin) telah mencapai saluran pernafasan, maka tak perlu minum obat batuk agar supaya tidak merintangi proses pembuangan kotoran

Pagi pk 05.00 – 07.00:

De-toxin di bagian usus besar, harus buang air di kamar kecil.

Pagi pk 07.00 – 09.00:

Waktu penyerapan gizi makanan bagi usus kecil, harus makan pagi. Bagi orang yang sakit sebaiknya makan lebih pagi yaitu sebelum pk 6:30. Makan pagi sebelum pk 7:30 sangat baik bagi mereka yang ingin menjaga kesehatannya.
Bagi mereka yang tidak makan pagi harap merubah kebiasaannya ini, bahkan masih lebih baik terlambat makan pagi hingga pk 9-10 daripada tidak makan sama sekali.
Tidur terlalu malam dan bangun terlalu siang akan mengacaukan proses pembuangan zat-zat tidak berguna.
Selain itu, dari tengah malam hingga pukul 04.00 dini hari adalah waktu bagi sumsum tulang belakang untuk memproduksi darah.
Sebab itu, tidurlah yang nyenyak dan jangan begadang!

Free Template Blogger collection template Hot Deals BERITA_wongANteng SEO

Mau kuliah apa kost?


Ada seorang pemuda dari desa nun jauh di sana. Setelah lulus SMA dari desanya, dia ingin melanjutkan kuliah di Jakarta. Maka dia mengutarakan niatnya untuk melanjutkan kuliah ke Jakarta pada orang tuanya. Dan demi masa depan anaknya, maka orangtuanya setuju.
Setelah diberikan uang yang cukup, maka anak tersebut berangkat ke Jakarta. Setelah sampai di Jakarta, maka anak tsb mendaftar di salah satu universitas dan sisa duitnya digunakan untuk membayar kost karena di Jakarta dia tidak mempunyai saudara. Uang tersebut cukup untuk membayar kost selama 2 bulan.
Memasuki bulan ketiga, uangnya sudah habis, maka dia menulis surat buat orangtuanya. Begini kira-kira sebagian isi suratnya :
‘Pa Ma, beta sehat-sehat saja di Jakarta dan sekarang beta telah kuliah. Tapi sekarang beta minta supaya papa kirim uang untuk bayar kost karena uang beta telah habis, dan …. ‘ (masih panjang sich suratnya tapi tidak usah diceritain karena intinya hanya di situ).
Setelah ditunggu selama seminggu, akhirnya datang juga balasan dari orang tuanya yang isinya kira-kira begini :
‘Anakku, waktu kamu dulu mau berangkat, rencana kamu kan untuk kuliah di Jakarta, bukan kost. Jadi sekarang mau kuliah ya kuliah, kalau mau kost ya kost. Jangan dua-duanya doooong.’
Anaknya tinggal bengong. Haaaaaaaaaa……..


Free Template Blogger collection template Hot Deals BERITA_wongANteng SEO
Senin, 08 November 2010 | By: ndak muah gw agiah tw

Indonesian Youth Pledge

On October 28, 1928, Indonesian youth nationalists from all over the country proclaimed a historic Youth Pledge, known as “Sumpah Pemuda”, for a unity of homeland, nation and language. This pledge helped Indonesia’s unification in Indonesia’s struggle for Independence. Ever since then, the Youth Pledge has been the quintessential symbol marking youth’s role and involvement in a nation building and development.




As a youth, and as an Indonesian, one could not help but to question whether any development has occur within the youth’s movement in the past 79 years. In evaluating this situation, we shall first analyze the challenges faced by each youth movement. This analysis is needed because the characteristic of a youth’s movement is largely intertwined with the challenges faced by such movement. Hence a comparative analysis on the characterization of the youth’s movement and its challenges before and after 1928 has to be employed.

Youth’s movement before the year of 1928 faces the challenge of colonialism and the repression of any freedom, particularly for any freedom of expression and right to education. This challenge is not only faced by Indonesian youth movement, but almost any other movement in any colonized territory. Specifically in Indonesia, the youth movement is characterized with segregation. This character is due to nature of multicultural Indonesia which is comprised more than 300 ethic groups and 200 different languages that stretch across 1,919,440 km². Along with this nature is the divide et impera’s politic employed by the Dutch colonialism.

The second character of youth’s movement pre-1928 is how it was led by intellectuals that reside in foreign countries. This character is mostly caused by the nature of education provided by the Dutch colony in Indonesia by that time. Education in Indonesia was only limited to an exclusive class of society, and focused on professional training rather than on higher graduate education. This tendency occurs because the Dutch colony’s need to have employees in the bureaucracy and equality of the Dutch children residing in Indonesia while trying to prevent any movement for independence on Indonesia’s part.

The youth’s movement after 1928, particularly after Indonesia’s independence, faces challenges that are different from the challenges faced by the youth movement before 1928. The challenges faced by nowadays youth movement are the fight for democracy and human right, global economy, free trade, and Indonesia’s position within the world’s economic and political realm.

Although the different challenges being faced by nowadays youth movement, there are similar traits from which we may take lessons from. The nature of these challenges are actually same, in spite of its’ different outlook. There still exist, however, a tension between the developed and developing countries, and many views free trade as consequence of globalization is a tool of neo-colonization. Therefore, despite the different outlook that nowadays challenges presents, we are still facing the same demon: colonization.

Moreover, if we compared the second character of youth movement, the number of intellectuals that reside in foreign countries is not too much difference either. The number of intellectuals residing in foreign countries is still and even higher than pre-1928. For instance, there are around 20.000 Indonesian youth intellectuals in Australia, 26.000 in Malaysia, 5000 in Egypt and more than hundred thousands spread in United State, Europe, India, Japan and others.

Based upon this comparison, there are certain actions that could be taken by the present youth movement, particularly for the youth living and/or residing in foreign countries, to handle the national and international challenges.

First, in fighting against the challenges by the outside world, Indonesia would first need strength. Indonesia’s strength would only be derived from Indonesia’s unity. In this context the internal structure within Indonesia has to be strengthened for escalating Indonesia’s reputation worldwide. The sense of nationalism and our national character need to be encouraged and grown. And not less important that in order to balance individual necessity to provide for basic needs while balancing our civic duty to uphold the nations’ and collective needs, each of us should advocate for a better Indonesia by upholding the political, moral and economical standard for ourselves.

Second, intellectuals residing in foreign countries can have much more access to sources that are not available in Indonesia. Thus, we must always remember to transfer the knowledge, information and technology gained by all means, such as writing in mass media, mentoring, giving lectures, conducting seminars or workshop for people who reside in Indonesia. This is similar to what was done by the intellectuals residing in the Netherlands that established the “Pendidikan Nasional Indonesia” (Indonesian National Education) which aims to share the education and knowledge gained with fellow Indonesians.




Third, the fact that we are all Indonesians means that we all represent Indonesia either we are residing in Indonesia or abroad. By being outside of Indonesia, one is held up to a higher standard than the one being held in Indonesia, because one then becomes an unofficial ambassador of Indonesia in every aspect. We reflected on Bung Hatta’s experience that gained friendship with Jawaharlal Nehru in seminars against colonialism. This friendship then developed into diplomacy, and this diplomacy helped Indonesia when Nehru takes sides and supported Indonesia’s independence in front of the United Nations right after 1945.

Bearing in mind that the past experience had shown us how we are able to make changes through actions taken in foreign countries that would eventually shape and influence the national development that will bring Indonesia become a greater nation. Unfortunately, till today there has not a global unity among Indonesian youth across the world nor enough coordination and communication between domestic and international youth movement. Consequently, the youth movement and its role are become powerless to tackle current challenges.
Free Template Blogger collection template Hot Deals BERITA_wongANteng SEO